Pengantar

Belajar IT itu gampang-gampang susah. Tidak ada yang pernah berpikir kalau hasil logika seseorang itu bisa dijual bagaikan produk manufaktur. Seseorang yang bisa menjadi orang kaya nomor satu gara-gara penjualan software Sistem Operasi-nya dan aplikasi perkantorannya. Bagaimana dengan pencari kerja ?

Yang saya maksud dengan pencari kerja, atau yang lebih tepat disebut CALON pencari kerja, bagaiamana seharusnya menyikapi hal ini ?

Saya jadi ingat saat saya kecil, saya dididik untuk mempunyai cita-cita yang umum dan global, misalnya : jadi dokter, insinyur, pengacara, pilot, dll. Semakin saya beranjak dewasa, saya mulai melihat profesi yang semakin bercabang, kompleks, bahkan terkesan irrasional.

Misalnya saja di Kabupaten Malang, ada pemulung sampah yang jadi kaya karena dia bisa mendaur ulang sampah. Ada orang salesman yang bisa kaya karena MLM. Dan yang saya menaruh perhatian banyak : profesi sebagai seorang pelaku Teknologi Informasi ..

Sebagai seorang yang masih “hijau” di bidang ini, tentunya saya tidak bisa memberi gambaran yang objektif tentang prospek IT. Hanya yang sebatas saya tahu, gaji orang IT hampir di semua tempat jauh lebih tinggi dari profesi di bidang lain.

Berdasar firasat saya ( lagi-lagi sebagai seorang mahasiswa yang masih awam akan segala hal ), ada semacam pola yang bisa kita kenali dari peristiwa masa lampau. Mari kita tengok masa lampau dimana mesin untuk pertama kali ditemukan. Berkat penemuan ini, pekerjaan manusia banyak terbantu. Bukannya menambah penganggguran karena tenaga manusia yang diambil alih oleh mesin, revolusi industri malah menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dengan berbagai macam bidang yang belum bisa dilakukan oleh mesin. Seperti : Administrasi, akuntansi, PR, manajemen, dll. Jadi ingat filmnya Chocolate Factory, ayah dari si aktor utama ( saya lupa namnya ) dipecat karena posisi dia sebagai tukang odol diganti mesin. Tapi kemudian dia kerja lagi tidak sebagai tukang odol tapi sebagai teknisi mesin yang mengerjakan tugas yang dia kerjakan sebelumnya. Sistem ekonomi dunia ini berjalan secara kompleks, misterius, namun adil ..

Setelah mesin, giliran elektronika yang mengalami masa keemasannya. Mungkin sekitar tahun 70-an kita mendengar bidang ilmu yang baru : Telekomunikasi. Tidak bisa kita bayangkan bahwa bidang ini bisa membuat ekonomi terangkat dan menjadi aset strategis disamping lisrik, air, dan sumber daya energi fosil. Kemudian tahun 90-an muncul lagi bidang IT yang kini juga ikut-ikutan jadi aset strategis {?}

Untuk menjadi seorang profesional dibidangnya, tentu kita harus mendapat pengakuan. Ini bisa dilakukan dengan cara informal semacam otodidak atau secara formal melalui pendidikan.

Saya pernah ikut seminar di Rektorat dulu tentang “Liberalisasi Pendidikan” yanag marak dibicarakan di PTN. Benar kata pembicaranya. DI Indonesia, orang kuliah tidak hanya ( atau tidak sama sekali ) mencari ilmu, tapi juga ( atau bisa dibilang “semata” ) untuk meningkatkan status sosial. Begini gambarannya : lebih dihormati mana, lulusan SD atau lulusan S1 ?

Ini sudah jelas salah jika dilihat dari segi fungsi institusi pendidikan sebagai pencetak tenaga pekerja yang profesional dan kompeten dibidangnya. Alih-alih memajukan bangsa, PT ( perguruan tinggi ) hanya meningkatkan status warganya dari pengangguran berijazah SD menjadi pengangguran berijazah S1 ..

Pengalaman saya selama 3 tahun kuliah ( hingga kini ), banyak lulusan dari tempat saya yang kebetulan saya kenal tidak bekerja sesuai disiplin ilmunya. Ada orang teknik yang akhirnya kerja di bagian administrasi, atau buka wirausaha warung mie atau photo copy, dan banyak hal lainnya yang sebenarnya bisa dicapai TANPA melalui jalan Perguruan Tinggi.

Setidaknya, banyak orang lulusan SMA jurusan IPS yang mungkin bisa jadi seorang pebisnis IT yang sukses. Atau lulusan perhotelan atau MIPA yang handal dalam ngoprek Linux. Sebenarnya, menjadi seorang IT’ers juga tidak perlu kuliah di Informatika, Ilmu Komputer, atau jurusan IT lainnya. Yang kita butuhkan adalah :
1. Niat, atau bisa disebut kemauan, motivasi, alasan.
2. Tindakan
3. Dan, kesempatan

Yang paling sulit adalah nomor 3, tapi sebenarnya itu masalah waktu dan kita bisa perkirakan. Yang perlu kita siapkan adalah nomor 1 dan 2. Jika ketemu nomor 3, maka yang selanjutnya terjadi adalah : hasil !

Pertanyaannya, bisakah saya melakukan apa yang saya sendiri katakan ? Ataukah anda ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s