Dosen “kejar setoran”

Baru-baru ini saya megajukan proposal TA yang kira-kira saya lakukan sekitar akhir November lalu, namun hingga hari ini saya sama sekali belum menyentuh proposal yang telah saya buat.

Yang menyebabkan saya urung mengerjakan TA saya adalah karena banyaknya Final Project yang harus saya tuntaskan. Bayangkan saja, untuk tiap mata kuliah yang saya ikuti (kecuali Kerja Praktek dan Bahasa Inggris Lanjut) terdapat Final Project yang 3 diantaranya menggantikan UAS dan dikumpulkan saat masa UAS.

Pola yang bisa saya tangkap dari kejadian ini ada beberapa hal, yaitu :

  • Semester gasal (ganjil) selalu dikeluhkan mempunyai beban yang lebih berat dari semester genap. Beban yang dimaksud bisa dilihat dari pemberian tugas, praktikum, demo, maupun final project.
  • Menjelang UAS, dosen selalu melakukan apa yang namanya “kejar setoran”. Karena sesuatu hal seperti proyekan, rapat, atau acara lainnya, dosen sering menambah kuliah secara “serentak” pada masa menjelang UAS. Alhasil, dapat dilihat pada okupansi kelas yang penuh bahkan hingga jam malam.

Sebenarnya saya sudah bosan dengan topik “dosen kejar setoran” ini karena setelah bertukar pikiran dengan teman-teman dari universitas lainnya juga mengalami hal yang sama dengan dosennya. Kejadian ini sepertinya diluar kemampuan mahasiswa untuk merubahnya, dan sayapun juga bersimpati dengan para dosen karena apapun yang mereka lakukan sehingga meninggalkan kuliahnya toh juga pasti mempunyai alasan yang kuat.

Namun yang mungkin perlu menjadi perhatian disini adalah :

  • Perlunya tindakan antipisasi terhadap hal ini. Jika memang pada setiap menjelang masa UAS terdapat penambahan waktu kuliah yang “serentak”, bagaimana jika sebelumnya telah dilakukan penambahan waktu kuliah yang “terencana” dan “disengaja” sehingga secara normal pada masa menjelang UAS, yaitu 1 – 2 minggu sebelum UAS sudah tidak ada beban kuliah lagi. Kalaupun jika mendadak ada penambahan, mahasiswa tidak akan terlalu terbebani dengan hal seperti ini.
  • Perlunya sosialisasi praktikum dan Final Project jauh sebelumnya, bahkan pada masa awal kuliah jika perlu. Hal ini saya lihat sudah dipraktekkan oleh beberapa dosen, cuma mungkin sebagian mahasiswa (termasuk saya) tidak dapat menangkap tujuan dari sosialisasi.

Yang mungkin masih belum bisa saya cerna, yaitu fenomena bahwa Semester gasal lebih berat dari semester genap (?), sekali lagi terdapat beberapa hal yang mungkin menyebabkan hal semacam hal itu. Dilihat dari sudut pandang dosen sebagai tim perancang kegiatan perkuliahan, hal ini mungkin disengaja agar mahasiswa semester akhir (seperi saya) untuk bisa mengerjakan tugas akhir dengan tenang. Dari sudut pandang mahasiswa, bisa jadi kegiatan kemahasiswaan diluar kuliah lebih banyak di akhir tahun (semester gasal) daripada di awal tahun (semester ganjil). Contohnya saja, yang namanya OSPEK pasti diadakan di semester gasal, belum lagi kegiatan pasca OSPEK.

Kalau bisa saya simpulkan, yang namanya dosen “kejar setoran” bukanlah sesuatu yang buruk. Namun walaupun begitu jangan sampai kepentingan mahasiswa dikorbankan. Kalau boleh pinjam istilahnya para politikus, harus ada yang namnya “win-win solution”. Apalagi jurusan saya saat ini hanya mempunyai kurang lebih 10-an orang menangani kurang lebih 300-an mahasiswa. Alangkah fatalnya jika 1 dosen saja berhalangan, maka sekitar 30 mahasiswa akan kehilangan hak dan kesempatannya untuk mendapatkan ilmu.

One thought on “Dosen “kejar setoran”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s