Ubuntu-ku terlambat datang

ubuntu.JPG

Tepatnya sekitar pertengahan 2006, saya memesan CD Ubuntu versi 6.06 LTS lewat situs http://shipit.ubuntu.com. Menurut situs tersebut, pesanan CD akan sampai 4-6 minggu. Nyatanya, CD pesanan saya yang saya alamatkan ke rumah saya di Malang baru datang pada bulan Januari kemarin. Yah, saya tidak akan mengeluh mengingat sudah beruntung CD itu gratis. Masalahnya, teman-teman saya yang ada di Surabaya sudah mendapatkannya sekitar beberapa bulan yang lalu.

Sebenarnya hal itu juga terjadi ketika saya memesan Ubuntu versi 5.10. Saya tidak begitu ingat, mungkin datangnya sekitar 4 bulan setelah saya memesan lewat internet. Bisa jadi keterlambatan pengiriman disebabkan oleh saya sendiri yang mungkin terlambat memesan. Atau hal ini juga terjadi karena pihak PT Pos Indonesia.

Terakhir saya menerima paket Ubuntu 5.10, saya hanya dikirimi surat pemberitahuan dari tukang pos yang mampir ke rumah saya. Isinya, saya harus datang ke kantor Pos di dekat alun-alun Kota Malang untuk mengambil paket saya tersebut. Ketika saya datang ke sana, saya dibebani biaya sekitar Rp. 4000,- untuk paket berisi 5 CD Ubuntu 5.10 yang saya terima.

Berdasar apa yang saya tahu dari forum linux Indonesia, biaya itu adalah biaya untuk pembungkusan kembali, katanya. Ketika paket itu sampai di Indonesia, paket itu dibongkar untuk mengetahui apakah terdapat barang berbahaya di dalamnya. Mungkin saja terdapat anthrax, atau bom. Paket itu setelah diperiksa kemudian dibungkus kembali. Nah, biaya pembungkusan itulah yang dibebankan pada kita. Seingat saya, ada teman saya yang memesan 100 CD Ubuntu dan dibebankan biaya yang kurang lebih sama. Hmm, apakah biaya untuk membungkus 100 CD dan 5 CD sama ?

Untuk Ubuntu 6.06 kali ini paket langsung dikirim ke saya tanpa biaya apapun. Apakah kali ini paketan saya tidak dibongkar atau memang biaya pembungkusannya sudah gratis ? Yang menarik dari bungkusan tersebut adalah bahwa terdapat sobekan kecil di atas bungkusan, cukup lebar bagi mata untuk melihat apa isi dari paket. Yah, mungkin itu cara baru pihak PT Pos Indonesia. Saya tidak keberatan. Justru saya senang, saya tidak mengeluarkan speserpun untuk sesuatu yang memang seharusnya gratis. Terimakasih tidak lupa saya ucapkan pada Canonical selaku pemegang lisensi Ubuntu yang berbaik hati membagi-bagikan CD Ubuntu secara gratis, dan juga PT Pos Indonesia atas usahanya yang maksimal.

Anyway, saya baru menerima secara “resmi” paketan itu di tangan saya pada awal Februari ini. Terus terang saya agak sedikit kecewa. Baru saja saya menginstall Ubuntu versi 6.10 (Edgy Eft kalo gak salah) kemarin tepat sebelum pulang ke Malang. Gatal ingin mencobanya, saya masukkan CD Ubuntu 6.06 dari paket itu ke laptop Toshiba milik ayah saya. Hmm, kenapa tidak mau booting ke Live CD-nya ya ?

Dugaan saya : Laptop miik ayah saya ini built-in Windows XP karena tertulis di laptopnya, “Designed For Microsoft Windows XP”. Dugaan kedua, saya belum men-setting “Device Boot Priority” pada BIOS-nya. Yah, kalau untuk yang satu ini saya tidak berani. Lebih baik menunggu balik pulang ke Surabaya daripada terjadi apa-apa pada laptop ayah saya. Bisa-bisa saya kena marah kalau terjadi apa-apa pada laptopnya ..

Kenapa saya ingin menginstall Ubuntu 6.06, padahal saya sudah menginstall 6.10 ? Ini karena ketika selesai menginstall Linux 6.10, ketika booting saya melihat tidak ada apa-apa di layar melainkan tanda kursor yang tidak berkedip. Ada apa gerangan ? Apakah ini memang suatu hal yang disengaja atau suatu error bug ? Maka dari itu saya ingin coba versi 6.06 dan membandingkannya, apakah sama saja. Sebelumnya, saya sudah pernah menginstall Xubuntu 6.10 dan ketika booting muncul tulisan-tulisan yang berkenaan (saya tidak begitu tahu, maklum newbie) dengan proses booting.

Apa yang saya lakukan pertama kali saat selesai menginstall Linux ? Yang menurut saya penting adalah resolusi layar. Saya sudah terbiasa dengan resolusi 1024×768. Sepengetahuan saya, hingga versi 6.10 pun paling banter hanya tersedia 800×600. Maka dari itu saya harus merubah konfigurasi di /etc/X11/xorg.conf (kalau tidak salah) dan menambahkan “1024×768”. “Save As” dan restart, maka di menu resolusi layar akan muncul pilihan 1024×768.

Satu lagi yang menurut saya penting adalah : Musik. Ya, kita tidak akan betah berlama-lama di depan komputer jika tidak mendengarkan musik MP3 kita. Masalahnya, Ubuntu secara “default” tidak mendukung MP3. Ini menurut informasi yang saya dapat, ternyata MP3 adalah tipe format yang berlisensi. Saya tidak begtu tahu, apakah MP3 itu harus kita beli ataukah bagaimana, saya tidak begitu peduli sekarang. Ada memang tipe OGG yang katanya lebih baik pakai itu, tapi saya malas mengkonversi MP3 saya ke tipe OGG, karena hal itu akan terlalu lama bagi saya. Daripada repot-repot, saya biasaya mengintall paket plugin (entah apa sebutan untuk ini) untuk dapat membaca MP3 dari CD Ubuntu AddOn 5.04. Mungkin ada cara lain, sampai saat ini saya belum tahu dan saya akan mencari tahu, bagaimana mendownload paket Ubuntu dan menginstallnya di kos saya. Tempat kos saya tidak terhubung dengan internet, jadi saya harus mencari cara, apakah itu dengan membuat CD Repository ? Saya belum begitu tahu. Atau mendownload-nya secara manual dan meng-copy-nya ke flashdisk untuk kemudian saya install satu-satu di komputer saya.

One thought on “Ubuntu-ku terlambat datang

  1. Kalo pengen ndengerin musik yang ekstensinya *.mp3 pake xmms.

    Masalah repository buat nambah package ya download la di internet. Pake apt arahkan ke kambing.vlsm.org

    Lek pengen ta kandani, tapi nang lab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s